Kelas Menengah di Persimpangan: Ketika Pertamax, BI Rate, dan Dolar AS Menguji Daya Tahan Rumah Tangga dan Petani

Kendari – Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang bertahan pada level 5,50 persen, serta nilai tukar dolar Amerika Serikat yang mendekati Rp18.000 per dolar menjadi kombinasi tekanan ekonomi yang dirasakan oleh jutaan rumah tangga Indonesia. Tidak hanya kelas menengah perkotaan, rumah tangga petani di pedesaan juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mempertahankan kesejahteraan keluarga.

Bagi kelompok kelas menengah, kenaikan harga Pertamax secara langsung meningkatkan biaya mobilitas harian. Pengeluaran untuk transportasi kerja, pendidikan anak, hingga aktivitas usaha menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya. Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan beban cicilan rumah, kendaraan, dan kredit konsumsi lainnya. Akibatnya, sebagian pendapatan yang sebelumnya dapat digunakan untuk tabungan, investasi, atau kebutuhan rekreasi kini harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban finansial.

Tekanan yang sama juga dirasakan oleh rumah tangga petani. Meskipun sebagian besar petani tidak menggunakan Pertamax secara langsung dalam jumlah besar, kenaikan harga BBM berdampak pada meningkatnya biaya transportasi hasil pertanian, distribusi sarana produksi, serta biaya operasional alat dan mesin pertanian. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya meningkatkan biaya produksi usahatani dan mengurangi keuntungan yang diterima petani.

Situasi semakin berat karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Banyak input pertanian seperti pupuk, pestisida, benih unggul, mesin pertanian, dan komponen alat produksi masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika nilai dolar naik, harga berbagai sarana produksi pertanian ikut meningkat. Di sisi lain, harga jual hasil pertanian tidak selalu naik secara proporsional sehingga margin keuntungan petani semakin tertekan.

Sementara itu, kebijakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,50 persen bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah. Namun, kebijakan ini memiliki konsekuensi terhadap biaya pinjaman. Petani yang mengakses kredit usaha rakyat (KUR) maupun pembiayaan perbankan lainnya berpotensi menghadapi proses pembiayaan yang lebih ketat. Demikian pula pelaku UMKM dan rumah tangga kelas menengah yang membutuhkan tambahan modal usaha atau pembiayaan konsumtif.

Dalam kondisi seperti ini, kelompok kelas menengah dan rumah tangga petani menghadapi tantangan yang serupa, yaitu menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Kelas menengah harus menyesuaikan pola konsumsi agar tidak terjebak dalam tekanan utang, sementara petani harus meningkatkan efisiensi usaha untuk menghadapi kenaikan biaya produksi yang terus terjadi.

Pengamat ekonomi menilai bahwa kelas menengah dan petani merupakan dua kelompok yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Kelas menengah berperan sebagai penggerak utama konsumsi domestik, sedangkan petani merupakan penopang ketahanan pangan nasional. Apabila tekanan ekonomi berkepanjangan menyebabkan daya beli kelas menengah menurun dan keuntungan petani terus tergerus, maka dampaknya dapat dirasakan pada perlambatan aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, diperlukan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat akses pembiayaan produktif, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Selain itu, diversifikasi sumber pendapatan, penguatan usaha sampingan rumah tangga, dan peningkatan literasi keuangan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Tahun 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan harga energi, kebijakan moneter, dan gejolak nilai tukar tidak hanya memengaruhi indikator makroekonomi, tetapi juga menentukan kualitas hidup jutaan keluarga Indonesia. Bagi kelas menengah dan rumah tangga petani, kondisi saat ini bukan sekadar tantangan ekonomi, melainkan ujian nyata terhadap kemampuan bertahan dan beradaptasi di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi (As).