Rupiah Melemah, Neraca Perdagangan Tetap Surplus: Sektor Pertanian Jadi Penopang Ekspor Indonesia

Perhepi Komisariat Kendari. Indonesia kembali mencatatkan kinerja perdagangan luar negeri yang positif di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Kuartal I 2026 masih mengalami surplus sebesar US$5,55 miliar, ditopang oleh performa ekspor nonmigas yang tetap kuat.

Berdasarkan data BPS, total ekspor Indonesia selama Januari–Maret 2026 mencapai US$66,85 miliar, sedangkan impor tercatat sebesar US$61,30 miliar. Pada Maret 2026 saja, nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,53 miliar, sementara impor berada di angka US$19,21 miliar sehingga menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$3,32 miliar. Capaian ini sekaligus memperpanjang rekor surplus perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Data BPS juga menunjukkan bahwa sektor nonmigas masih menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional, terutama dari komoditas minyak dan lemak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, sektor migas masih mengalami tekanan akibat tingginya impor energi nasional.

Di tengah capaian tersebut, rupiah justru terus mengalami pelemahan dan sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh kuatnya dolar AS global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik internasional. Bank Indonesia pun diperkirakan memperkuat kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga dan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pelemahan rupiah membawa dampak ganda terhadap perekonomian Indonesia. Di satu sisi, biaya impor bahan baku dan barang modal meningkat tajam akibat fenomena imported inflation. Sepanjang Kuartal I 2026, impor Indonesia tercatat naik hingga 10,05 persen secara tahunan. Kenaikan ini terutama dipengaruhi mahalnya bahan baku industri, barang modal, serta impor migas yang seluruh transaksinya menggunakan dolar AS.

Sebagai negara net importer minyak, Indonesia menghadapi tekanan berat di sektor energi. Defisit migas sepanjang Kuartal I mencapai sekitar US$5,08 miliar akibat melonjaknya biaya impor minyak mentah dan BBM. Bahkan, studi ekonomi menunjukkan bahwa setiap kenaikan impor migas sebesar US$1 miliar dapat memperlemah rupiah hingga Rp455 per dolar AS.

Meski demikian, pelemahan rupiah justru membawa keuntungan bagi sektor pertanian dan komoditas ekspor berbasis sumber daya alam. Produk-produk pertanian Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga jualnya lebih murah bagi pembeli luar negeri. Kondisi ini dimanfaatkan untuk mendorong ekspor komoditas pangan, perkebunan, dan peternakan.

Kementerian Pertanian mencatat adanya peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian, termasuk beras premium yang mulai diekspor ke Malaysia dan Arab Saudi melalui Perum BULOG. Selain itu, ekspor produk peternakan seperti unggas ke Singapura dan Jepang juga terus meningkat. Momentum ini menunjukkan bahwa sektor pertanian mulai memainkan peran strategis sebagai penopang devisa nasional di tengah gejolak kurs global.

Namun, tantangan tetap membayangi sektor pertanian nasional. Ketergantungan pada pupuk kimia, pestisida, dan bahan baku impor membuat biaya produksi petani meningkat ketika rupiah melemah. Komoditas pangan yang belum swasembada seperti kedelai dan bawang putih juga mengalami kenaikan harga di pasar domestik akibat mahalnya impor.

Secara makroekonomi, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh menyempitnya surplus perdagangan dibandingkan periode sebelumnya. Berkurangnya pasokan devisa dari ekspor menyebabkan ruang intervensi Bank Indonesia menjadi lebih terbatas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia masih relatif stabil dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Amerika Serikat yang mencapai 3,80 persen. Tingkat pengangguran Indonesia juga menunjukkan perbaikan, turun menjadi 4,68 persen pada Maret 2026.

Ke depan, pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional. Penguatan sektor pertanian, hilirisasi industri, serta pengurangan ketergantungan impor dinilai menjadi langkah penting agar Indonesia lebih tahan menghadapi tekanan global dan fluktuasi nilai tukar di masa mendatang. (As)

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik (BPS)
  2. Bank Indonesia
  3. CNBC Indonesia
  4. Trading Economics Indonesia
  5. Kementerian Pertanian Republik Indonesia