Dampak Penambangan Nikel terhadap Pertanian

https://doi.org/10.5281/zenodo.18113205

Penambangan nikel memiliki dampak signifikan terhadap pertanian, terutama melalui kontaminasi dan degradasi tanah, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas panen.

Kontaminasi Tanah dan Kesehatan Tanaman

  • Akumulasi Logam Berat: Aktivitas penambangan nikel menyebabkan akumulasi logam berat di tanah, yang dapat merugikan kesehatan tanaman. Konsentrasi nikel yang tinggi dapat secara serius mempengaruhi pertumbuhan tanaman, pigmen fotosintesis, dan proses biokimia, termasuk aktivitas enzim antioksidan [1] [2] [3] .
  • Degradasi Kualitas Tanah: Aktivitas pertambangan seringkali menyebabkan degradasi kualitas tanah, yang ditandai dengan penurunan sifat fisik dan kimia tanah. Hal ini termasuk penurunan kadar nutrisi esensial dan peningkatan keasaman tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan hasil panen [4] [5] [6] .

Dampak terhadap Produktivitas Tanaman

  • Toksisitas Nikel: Kelebihan nikel dalam tanah dapat menyebabkan efek toksik pada tanaman, seperti perubahan dalam perkecambahan, pertumbuhan akar dan batang, serta produksi biomassa secara keseluruhan. Toksisitas ini juga dapat mengganggu proses fisiologis seperti fotosintesis dan penyerapan nutrisi, yang mengakibatkan penurunan hasil panen [2] [3] .
  • Bioakumulasi pada Tanaman: Tanaman yang ditanam di tanah terkontaminasi nikel dapat menumpuk nikel dalam jaringan mereka. Namun, studi menunjukkan bahwa beberapa tanaman, seperti tomat, mungkin tidak menumpuk nikel hingga tingkat yang membahayakan kesehatan manusia, bahkan ketika ditanam di tanah dengan konsentrasi nikel sedang [7] .

Strategi Mitigasi

  • Perbaikan Tanah: Penggunaan bahan perbaikan tanah, seperti kompos, dapat membantu merehabilitasi tanah yang terkontaminasi nikel. Kompos dapat meningkatkan kualitas tanah dengan meningkatkan kandungan organik dan tingkat nutrisi, sehingga mengurangi toksisitas nikel dan meningkatkan pertumbuhan tanaman [4].
  • Fitoremediasi: Tanaman tertentu, yang dikenal sebagai hiperakumulator, dapat digunakan untuk mengekstrak nikel dari tanah yang terkontaminasi. Misalnya, tanaman mustard telah menunjukkan potensi dalam mengumpulkan dan memindahkan nikel dari akar ke batang, yang dapat dipanen untuk menghilangkan nikel dari tanah [1] [8].

Dampak Lingkungan dan Sosial

  • Deforestasi dan Degradasi Ekosistem: Penambangan nikel berkontribusi pada deforestasi dan degradasi ekosistem, terutama di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Sulawesi, Indonesia. Degradasi lingkungan ini dapat memiliki dampak jangka panjang pada produktivitas pertanian dan kesejahteraan komunitas lokal [9] [10] .
  • Risiko Kesehatan: Kontaminasi tanah pertanian dengan nikel menimbulkan risiko terhadap keamanan pangan dan kesehatan, karena nikel dapat masuk ke rantai makanan dan berpotensi mempengaruhi kesehatan manusia. Paparan kronis terhadap nikel melalui makanan terkontaminasi dapat menyebabkan efek kesehatan yang merugikan [3] .

Kesimpulan
Penambangan nikel memiliki dampak yang signifikan terhadap pertanian, terutama melalui kontaminasi dan degradasi tanah, yang memengaruhi kesehatan tanaman dan produktivitas tanaman. Strategi mitigasi, seperti perbaikan tanah dan fitoremediasi, sangat penting untuk mengatasi tantangan ini dan mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan di daerah yang terkena dampak penambangan. Selain itu, diperlukan akuntabilitas yang lebih besar dan upaya konservasi untuk mengurangi dampak lingkungan dan sosial dari penambangan nikel [9] [10] [11] . (As)

Referensi

[1] H. K. Patra, N. Patnaik, D. K. Patra, et al., “Comparative assessment of phytoaccumulation potential of mustard and wheat grown in nickel contaminated soil: A phytoremediation approach,” Pollution Research, vol. 39, no. 4, pp. 1–9, 2020.

[2] T. V. M. Sreekanth, P. C. Nagajyothi, K. D. Lee, and T. N. V. K. V. Prasad, “Occurrence, physiological responses and toxicity of nickel in plants,” International Journal of Environmental Science and Technology, vol. 10, no. 5, pp. 1129–1140, 2013.

[3] M. Rizwan, K. Usman, and M. Alsafran, “Ecological impacts and potential hazards of nickel on soil microbes, plants, and human health,” Chemosphere, vol. 350, p. 141023, 2024.

[4] A. Zaeni, Alwahab, Hasmawati, et al., “Utilization of compost as ameliorant in a nickel post-mining soil,” Journal of Physics: Conference Series, vol. 1899, no. 1, p. 012045, 2021.

[5] W. Kurniawan, C. Hanim, and N. Umami, “Evaluation of two-year-old post-nickel mining soil, botanical composition, and the potential of local plants as forage,” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, vol. 1406, p. 012087, 2025.

[6] S. Leomo, S. Alam, E. Afrianto, et al., “Cover crop residue effects on soil and corn performance in ex-nickel mining soils,” Pakistan Journal of Biological Sciences, vol. 24, no. 8, pp. 905–913, 2021.

[7] L. Correia, P. Marrocos, D. M. Montalván Olivares, et al., “Bioaccumulation of nickel in tomato plants: Risks to human health and agro-environmental impacts,” Environmental Monitoring and Assessment, vol. 190, no. 9, p. 523, 2018.

[8] N. Haruna, T. Wardiyati, and D. M. Moch, “The use of citric acid and NPK fertilizer to enhance phytoextraction of nickel by Bajo starfruit plant (Sarcotheca celebica Veldk.),” Journal of Degraded and Mining Lands Management, vol. 7, no. 4, pp. 2337–2346, 2020.

[9] M. G. Y. Lo, C. L. Morgans, T. Santika, et al., “Nickel mining reduced forest cover in Indonesia but had mixed outcomes for well-being,” One Earth, vol. 7, no. 2, pp. 241–254, 2024.

[10] X. Peng, X. Dai, R. Shi, et al., “Investigating the effects of mining on ecosystem services in Panzhihua City: A multi-scenario analysis,” Land, vol. 13, no. 3, p. 421, 2024.

[11] H. Herawati, A. Mallongi, A. Daud, et al., “Ecological and human health risks of nickel mining: A systematic review,” Journal of Public Health and Pharmacy, vol. 5, no. 1, pp. 1–15, 2025.