Populasi Dunia 8 Miliar Jiwa, Namun Daya Dukung Ideal Bumi Hanya 2,3–2,5 Miliar
Kendari, PERHEPI – Dunia saat ini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research Letters mengungkapkan bahwa jumlah penduduk global yang telah mencapai sekitar 8 miliar jiwa ternyata jauh melampaui kapasitas ideal Bumi untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Studi tersebut menunjukkan bahwa daya dukung optimal planet ini hanya berada pada kisaran 2,3 hingga 2,5 miliar jiwa, yang berarti populasi manusia saat ini telah melampaui batas aman lebih dari tiga kali lipat .
Penelitian ini menjelaskan bahwa sejak tahun 1970, manusia telah memasuki kondisi defisit biokapasitas, yaitu situasi ketika konsumsi sumber daya alam lebih besar dibandingkan kemampuan Bumi untuk memulihkan dirinya. Dalam kondisi ini, manusia tidak lagi hidup dari “hasil” alam, tetapi mulai menguras “modal” ekologi yang seharusnya dijaga untuk keberlanjutan jangka panjang. Fenomena ini terjadi seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi global yang sangat bergantung pada eksploitasi sumber daya alam .
Lebih jauh, studi ini mengungkap bahwa dinamika pertumbuhan populasi manusia telah mengalami perubahan penting sejak pertengahan abad ke-20. Pada periode sebelum tahun 1950, pertumbuhan populasi bersifat mempercepat karena didukung oleh kemajuan teknologi, penggunaan energi fosil, dan peningkatan kesejahteraan. Namun, sejak sekitar tahun 1960-an, pola tersebut berubah menjadi sebaliknya, di mana semakin besar jumlah penduduk, laju pertumbuhannya justru menurun. Meskipun demikian, jumlah total populasi tetap meningkat dan diproyeksikan akan mencapai sekitar 11,7 hingga 12,4 miliar jiwa pada periode 2067 hingga 2076, yang semakin memperbesar tekanan terhadap daya dukung lingkungan .
Kondisi ini tidak hanya menjadi persoalan demografi, tetapi juga berkaitan erat dengan krisis lingkungan global. Penelitian tersebut menemukan bahwa peningkatan jumlah penduduk memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kenaikan suhu global, peningkatan emisi gas rumah kaca, serta membesarnya jejak ekologis manusia. Bahkan, dalam analisis yang dilakukan, jumlah populasi terbukti menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan konsumsi per kapita dalam menjelaskan perubahan lingkungan global. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Bumi tidak hanya berasal dari gaya hidup, tetapi juga dari besarnya jumlah manusia yang harus dipenuhi kebutuhannya .
Implikasi dari kondisi ini sangat serius bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan. Dengan populasi yang terus bertambah, kebutuhan pangan global akan meningkat secara signifikan, sementara ketersediaan lahan, air, dan sumber daya lainnya semakin terbatas. Tekanan ini berpotensi menurunkan kapasitas produksi pangan serta meningkatkan risiko ketidakstabilan sistem pangan di masa depan. Selain itu, perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia semakin memperburuk kondisi tersebut melalui perubahan pola musim, meningkatnya frekuensi bencana, dan penurunan produktivitas pertanian.
Para peneliti menegaskan bahwa kondisi ini tidak dapat diatasi tanpa adanya perubahan besar dalam cara manusia mengelola sumber daya alam. Diperlukan transformasi mendasar dalam sistem produksi dan konsumsi, termasuk pengelolaan lahan, air, energi, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Selain itu, pengendalian pertumbuhan populasi dan peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan dan menjaga keberlanjutan kehidupan di Bumi.
PERHEPI memandang bahwa temuan ini merupakan peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya dalam sektor pertanian dan pembangunan pedesaan. Ketahanan pangan di masa depan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan antara jumlah penduduk dan daya dukung lingkungan. Tanpa upaya yang terintegrasi dan berkelanjutan, tekanan terhadap sistem pangan akan semakin meningkat dan berpotensi memicu krisis global yang lebih luas. (As)
Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1748-9326/ae51aa
